
Satu Musim Hujan di Bogor, dan Kolam yang Tetap Terpakai
Di kota ini musim hujan berjalan beberapa bulan dengan pola yang hampir sama tiap hari: pagi terbuka, sore tertutup. Latihan di lapangan kehilangan separuh jadwalnya pada rentang itu, dan justru di situ kolam naik nilainya. Air tidak peduli langit mendung; yang membatalkan sesi renang cuma petir. Karena itu banyak peserta di sini memakai kolam sebagai tulang punggung latihan pada bulan-bulan basah, lalu kembali ke lapangan ketika musimnya berganti.
Keputusan tempatnya dibuat sejam sebelum kamu berangkat, dan di kota ini jeda sependek itu sudah cukup. Penghuni Kedung Halang serta Bogor Baru memakai kolam kawasan pada pagi, lalu pindah ke pusat kota begitu awan menumpuk di atas Sempur sejak siang. Yang memegang pola ini kehilangan dua sampai tiga pertemuan sepanjang satu musim hujan, jauh lebih sedikit daripada jatah yang lenyap di lapangan terbuka pada bulan yang sama.
Musim kemarau membalik pilihannya. Kolam terbuka di kawasan jadi lebih nyaman karena suhu airnya naik, dan sesi anak bisa kembali ke sore tanpa risiko gigil. Pada rentang itu porsi latihan jaraknya ditambah, sebab jadwal yang stabil memberi ruang untuk uji jarak penuh tiap pekan di kolam sisi Cibinong.
Satu lagi yang menggeser jadwal di sini sama sekali tidak berurusan dengan langit, yaitu kereta. Arus pekerja yang berangkat ke ibu kota tiap pagi membuat rentang pagi buta dan selepas pukul tujuh malam jadi dua yang paling cepat terisi, dan hanya kolam berbayar pusat kota yang jam bukanya sanggup memenuhi keduanya. Peserta yang menyiapkan seleksi bergerak ke arah sebaliknya: mereka mengambil pagi hari kerja di kompleks Stadion Pakansari, ketika lintasan di sana paling lengang dan uji jaraknya bisa dijalankan tanpa menunggu giliran siapa pun.