
Kebiasaan yang Dibawa dari Main Ramai di Hall Kampung
Banyak pemain di Yogyakarta belajar bulu tangkis dari main ramai bersama tetangga dan teman sekampus, jauh sebelum mereka pernah ikut sesi berpelatih. Hall kampung di Umbulharjo, Gamping, atau Banguntapan ramai tiap malam, lapangan dibagi bergilir, dan satu orang kadang cuma kebagian sepuluh menit di lapangan sebelum berganti. Caranya menyenangkan dan ia yang membuat kota ini punya pemain banyak, tapi ada ongkos yang jarang disadari: nol orang yang mengoreksi gerakanmu.
Ongkos itu muncul sebagai tiga kebiasaan yang hampir selalu sama. Ayunan jadi terlalu panjang karena bola rendah dibalas dengan tenaga; langkah jadi menyeret karena lapangan selalu dibagi dua dan jarak lari terasa pendek; servis jadi variasi pribadi yang masuk kira-kira separuh waktu. Ketiganya bertahan bertahun-tahun karena dalam permainan ramai tidak ada yang mencatat, dan poin yang hilang selalu terbaca sebagai nasib.
Sesi berpelatih memotong siklus itu dengan cara yang membosankan di awal: pengulangan yang dihitung, satu hal diperbaiki tiap pertemuan, dan beberapa menit permainan berpoin di akhir sebagai ujian. Peserta Kursus Bulu Tangkis Yogyakarta yang datang dari main ramai biasanya merasa aneh pada dua pertemuan pertama, lalu mulai menikmatinya begitu servisnya masuk berturut-turut dan langkahnya sampai lebih cepat di hall yang sama.
Ada satu sifat kota ini yang jarang dipunyai kota lain, yaitu ia melandai dua kali setahun. Begitu libur semester dimulai, kos di sekitar Seturan dan Babarsari mengosong, dan hall sisi timur yang biasanya terkunci kelompok tetap mendadak menyisakan lapangan pada jam tujuh malam. Peserta yang menetap di Yogyakarta sepanjang tahun memakai jendela itu untuk memadatkan latihan, sebab tarif jam malamnya ikut lebih gampang dinegosiasikan. Begitu kuliah bergulir lagi, porsi sesinya dikembalikan ke rentang siang.