
Lapangan Kawasan, Sekolah Olahraga Pertama Anak Kediri
Di Kediri hampir tiap anak sudah punya pengalaman olahraga sebelum ia pernah bertemu pelatih. Lapangan kawasan di Pesantren, Tosaren, dan Ngasem terisi sepak bola serta voli tiap sore, dan anak kecil ikut berdiri di pinggir sampai akhirnya dilempar ke dalam permainan. Cara belajar seperti itu melahirkan keberanian dan pembacaan permainan yang bagus, dua hal yang justru paling sulit diajarkan dari nol.
Yang jarang ikut terbentuk adalah tekniknya. Kontrol bola dipelajari dari meniru teman yang lebih besar, jadi kebiasaan yang salah ikut tertiru utuh. Anak yang sudah bermain lima tahun bisa tetap menyentuh bola dengan ujung kaki yang keliru, dan di seleksi tim sekolah hal sekecil itu yang menentukan siapa yang dipanggil kembali pada hari berikutnya.
Peran pelatih di kota seperti ini karena itu lebih sering membongkar daripada membangun: satu kebiasaan dipilih tiap blok, dilatih sampai benar, lalu dipakai kembali di permainan sore yang sama. Lapangannya tidak perlu berganti, hanya isi kepalanya yang berganti.
Yang menarik, ketiga ritme kota itu akhirnya bertemu di petak lapangan yang sama. Pada petang di Tosaren dan Ngletih, anak sekolah datang paling awal, pekerja yang baru lepas giliran siang menyusul, dan pendatang yang kelas bahasanya baru bubar ikut berdiri di pinggir. Satu petak itu lalu dibagi tanpa jadwal tertulis, dan yang datang belakangan menunggu. Sesi privat karena itu ditaruh sebelum pukul empat atau sesudah pukul enam, dan pelatih menyebut jamnya persis supaya separuh waktumu tidak habis di tepi lapangan.
Kebiasaan sore di lapangan kawasan itu aset yang sudah lama ada di kota ini. Yang ditambahkan program ini hanya urutan dan catatan, supaya lima tahun bermain berubah jadi lima tahun berkembang.