
Kontur Ambon sebagai Alat Latihan
Hampir semua orang yang tinggal di sisi barat kawasan Ambon, Maluku, memperlakukan tanjakan sebagai ongkos harian: sesuatu yang harus dilewati untuk sampai ke mana pun. Padahal kemiringan yang sama adalah hal yang dibeli orang di kota datar lewat alat berbayar, dan di sini ia tersedia di depan rumah tanpa satu rupiah pun.
Pergeseran cara memandangnya sederhana. Satu tanjakan pendek yang ditempuh berulang, dengan waktu pendakian dan waktu pulih yang dihitung, memberi rangsangan setara latihan interval. Jalan menurun melatih hal berbeda lagi, yaitu kendali: otot bekerja menahan alih-alih mendorong, dan bagian inilah yang paling sering lemah pada orang yang hanya berlatih di permukaan datar.
Pasir di tepi pantai Amahusu dan Latuhalat menambah satu lapis lagi. Ia menyerap tenaga di tiap tolakan, sehingga porsi yang sama terasa lebih berat, sementara permukaannya yang lunak mengurangi hentakan ke lutut. Untuk peserta dewasa yang lututnya pernah bermasalah, kombinasi itu sulit ditiru fasilitas mana pun.
Yang dikerjakan pelatih di sini mengukur dan menyusunnya. Tanpa pengukuran, tanjakan hanya melelahkan; dengan catatan lama pendakian, jumlah ulangan, dan waktu pulih, ia jadi beban yang naik terencana. Itu sebabnya peserta di kawasan ini sering maju cepat begitu latihannya terarah, sebab bahannya memang sudah ada sejak awal di sekitar rumah mereka.
Satu hal lagi ikut membentuk cara orang di sini berlatih: Maluku memang dikenal sebagai daerah penghasil atlet, terutama di sepak bola dan atletik. Lapangan kampung yang terisi tiap petang adalah jalur masuknya, dan anak yang menonjol di situ biasanya ditarik lebih dulu oleh pelatih kampungnya sendiri. Yang jarang menyertainya justru urutan dan angka, sehingga kemajuan dibaca dari siapa yang menang pada petang itu. Program privat masuk tepat di celah tersebut, dan untuk anak yang sudah dilirik, ia menambahkan ukuran pada bakat yang sudah terlihat.