
Atap GOR, Udara Kota, dan Jam Prima di Semarang
Shuttle adalah benda paling ringan yang dipakai dalam olahraga mana pun, dan itu membuat bulu tangkis sangat peka pada udara di ruangannya. Di GOR yang berdiri di sisi pesisir kota, panas menumpuk di bawah atap sejak tengah hari dan baru turun menjelang petang, sehingga bola terasa melaju lebih jauh dan rally panjang lebih cepat menguras tenaga.
Di GOR yang berdiri di ketinggian Banyumanik dan Srondol, udaranya lebih sejuk sepanjang hari, jadi sesi tengah hari di sana tetap masuk akal. Perbedaan itu yang membuat pelatih menyusun porsi rally berbeda untuk dua peserta yang sebenarnya sedang melatih pukulan yang sama.
Lalu ada soal yang tidak berhubungan dengan teknik sama sekali: lapangan. Jam tujuh sampai sepuluh malam adalah jam paling diperebutkan di seluruh kota, dan pemain yang menunggu lapangan kosong akan kehilangan keteraturan latihan. Peserta yang jadwalnya longgar di siang hari justru paling cepat maju, karena sesinya nyaris tidak pernah tergeser.
Ada satu keuntungan yang hampir hanya dipunyai pemain di kota ini, dan tempatnya di luar lapangan. Tanjakan di kawasan Gombel dan Banyumanik sudah lama dipakai pelari serta pesepeda sebagai beban alami, dan bagi pemain bulu tangkis ia memberi kekuatan tungkai tanpa memakan satu menit pun jam sewa. Blok mendaki karena itu ditaruh di hari tanpa lapangan, lalu jam di dalam gedung dipakai seluruhnya untuk langkah, pukulan, dan permainan. Peserta dari sisi atas kota umumnya berangkat dari depan rumah dan sudah selesai dalam setengah jam.